Pendidikan

Mengajar dan Belajar di Era Digital: Apa Peluang dan Tantangannya?

Dunia pendidikan terus bergerak. Dahulu guru berdiri di depan kelas dengan kapur dan papan tulis. Sekarang guru bisa mengajar dari rumah lewat layar laptop. Para siswa pun tak lagi harus duduk berjejer di bangku kelas karena materi bisa diakses dari mana saja. Itulah wajah pendidikan hari ini. Kita sudah berada di era digital, dan suka tidak suka, dunia belajar ikut berubah.

Ketika Layar Menggantikan Dinding Kelas

Teknologi membawa banyak hal baik jika kita mau melihat lebih dekat. Salah satunya adalah soal akses. Dulu belajar terbatas pada ruang kelas dan buku teks. Kini, siapa saja bisa belajar dari mana saja. Siswa di pelosok pun bisa mengakses materi dari guru terbaik di dunia hanya lewat internet.

Tidak hanya itu, pembelajaran jadi lebih fleksibel. Siswa bisa belajar sesuai kecepatan dan gaya masing-masing. Ada yang suka membaca artikel. Ada juga yang lebih nyaman menyimak video atau menjawab kuis interaktif. Teknologi memberi ruang untuk semua jenis gaya belajar.

Guru juga terbantu. Banyak platform menyediakan bank soal, fitur koreksi otomatis, hingga alat visual yang membuat mengajar lebih efisien dan menarik. Bahkan guru bisa membuat konten pembelajaran sendiri dan membagikannya kepada lebih banyak siswa.

Tantangan Tak Bisa Diabaikan

Namun tentu saja, semua ini tidak berjalan mulus. Ada tantangan besar yang harus kita hadapi bersama. Salah satunya adalah kesenjangan akses. Tidak semua siswa punya perangkat atau jaringan internet yang stabil. Di beberapa daerah, bahkan listrik pun masih menjadi masalah. Teknologi yang seharusnya mempermudah malah bisa memperlebar kesenjangan jika tidak diimbangi dengan pemerataan infrastruktur.

Selain itu, terlalu lama belajar di depan layar membuat siswa cepat lelah. Fokus mudah hilang, tubuh jadi kurang bergerak, dan interaksi sosial nyaris tak ada. Guru pun merasakan tekanan yang sama. Mengajar tanpa tatap muka langsung bukan hal mudah. Mereka harus memutar otak agar materi tetap menarik dan siswa tidak bosan.

Di sisi lain, ada kekhawatiran akan ketergantungan pada teknologi. Anak-anak jadi terlalu akrab dengan layar dan mulai lupa bagaimana berinteraksi secara nyata. Padahal, nilai-nilai sosial, empati, dan kerja sama tetap penting dalam proses pendidikan.

Menyusun Keseimbangan Baru

Pendidikan digital seharusnya bukan menggantikan yang lama, melainkan menyempurnakan. Teknologi hanyalah alat. Ia tidak bisa menggantikan sentuhan manusia dalam proses mendidik. Maka dari itu, peran guru tetap vital. Justru dengan teknologi, guru bisa lebih fokus pada hal-hal yang tak bisa dilakukan mesin seperti memberi motivasi, membangun karakter, dan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Transformasi ini akan berhasil jika semua pihak ikut bergerak. Pemerintah perlu memastikan akses merata. Sekolah perlu mendampingi guru dan siswa. Orang tua perlu memberi dukungan di rumah. Dan kita semua perlu menyadari bahwa belajar di era digital bukan sekadar urusan koneksi, tapi juga soal koneksi hati antar manusia.

Langkah ke Depan: Kolaborasi dan Keseimbangan

Transformasi teknologi dalam pendidikan hanya akan berhasil jika semua pihak saling berkolaborasi: pemerintah menyediakan infrastruktur, guru beradaptasi, siswa aktif, dan orang tua mendukung.

Yang paling penting, kita tidak boleh lupa bahwa teknologi hanyalah alat. Yang utama tetaplah tujuan pendidikan itu sendiri: membentuk manusia yang berpikir kritis, kreatif, dan berakhlak.

Website Resmi Universitas Negeri Yogyakarta: https://uny.ac.id

4 komentar pada “Mengajar dan Belajar di Era Digital: Apa Peluang dan Tantangannya?

  • Setuju, di era digital ini memang perlu adanya adaptasi terhadap teknologi terutama penerapannya dalam proses belajar mengajar 👌🏻

    Balas
  • Ika Debi Krisfani

    Belajar di era digital jadi lebih fleksibel dan menarik, tapi tantangannya juga besar, terutama soal distraksi dan kualitas interaksi. Penting banget menjaga keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia dalam proses belajar-mengajar.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *